Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Cerita yang mengharukan, sebuah arti saudara yang begitu besar…. baca sendiri aja, agak panjang ceritanya..
********************************************************************

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Continue reading

Advertisements

Cerita Terakhir Komik Doraemon (Tamat)

Diperlukan kecepatan internet yang tinggi untuk membuka halaman ini karena menampilkan 16 gambar episode terakhir doraemon, bagi pengguna yang lambat harap sabar.

Hampir tidak ada yang tidak mengenal doraemon, sosok robot kucing dengan peralatan-peralatan canggihnya. Kartun yang membelah jaman, dari anak kecil sampai besar pun kadang masih ada yang membayangkan memiliki alat-alat dari kantung ajaibnya seperti baling-baling bambu maupun pintu kemana saja.

Rasanya mengharukan juga membaca episode terakhir ini, setelah bertahun-tahun ditemani doraemon tetaplah pasti ada perpisahan di setiap pertemuan. Silahkan dibaca.. Continue reading

Misteri Bola Hitam dan Putih

Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak married2 lagi. Tapi ini anak baek hati dan lemah lembut walaupun cuma bareng pengasuh aja

Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki.Pengasuhnya ngadu ke bokapnya, “Tuan, nggak kasian sama den Bagus? Masa sepeda nggak punya…apa tuan juga nggak malu?” SoaInya..nih. .bokapnya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan.. maka dipanggillah si anak,ditawarin mau sepeda yang kayak gimana, merek apa..dan si anak cuma bilang,”Nggak usah repot2 pi, aku dibeliin bola item bola putih aja..” Lho kok gitu? Bingung dong bokapnya. “Kenapa bola item dan putih?” “Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja.”Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol, jadi papinya nerima2 aja. Nggak berminat lanjutin, maka dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus bola item dan bola putih.

Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh pratiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi.”Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu? kok nggak bilang2 papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja…”. Si anak bilang,” nggak pi, bola item dan bola putih saya udah rusak.. dibeliin lagi aja.. nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?” Yee..si papi geram dong.Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah ? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih. Continue reading

Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari

Jam besar di atas peron stasiun Tanah Abang menunjukkan pukul dua kurang delapan menit. Kereta api luar biasa jurusan Kutoarjo sudah setengah jam lebih berangkat lagi ke arah selatandiserbu oleh sisa-sisa penumpang yang terpaksa bertahan menanti hingga dini hari untuk mudik di hari ketiga Lebaran, meninggalkan sampah koran alas tidur, robekan kertas bungkus nasi, plastik minuman, sengatan bau pesing, dan aroma anyir sisa muntahan. Setelah itu segalanya menjadi sunyi. Tak kedengaran lagi lengkingan peluit kondektur, deru lokomotif, maupun bayi kehausan, kecuali sayup-sayup alunan dangdut yang terpancar dari radio kaset murahan dari kejauhan sana.

Dengan satu tarikan napas panjang, Mudakir berdiri, menjinjing kotak karton berisi berbagai makanan dengan tangan kanan dan menempatkan tas besar berisi beberapa lembar pakaian di bahu kiri, lalu berjalan melintasi gerbang menuju jalan raya depan stasiun yang remang oleh banyaknya lampu penerangan yang mati. Continue reading